“Ndeso” ( Kampungan )

Oleh Ustadz abdullah Muadz

Deso (baca: ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrifield dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya.

Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum sama seperti dia. Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus.

Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso. Doktrin syumuliayah yang selama ini kita anut harus terus kita jadikan metode dalam memandang, menilai, serta memutuskan sesuatu persoalan, sehingga tidak seperti memakai kaca mata kuda, yang hanya mampu dilihat hanyalah yang ada dihadapannya.

Persoalanya ketika nilai-nilai matrialisme masuk ke Indonesia begitu deras, maka kenorak’annya pun ditandai dengan tekagum-kagumnya dengan materi, fasilitas sarana kehidupan, kendaraan, gedung, pakaian, assesoris dan sebagainya. Celakanya lagi hari ini symbol-simbol kemajuan materi ada di barat, maka orang-orang yang deso alias norak akan sangat bangga kalau sudah dekat dengan barat, bergaya barat, makan, minum, pakaian, pergaulan, cara pandang yang kebarat-baratan.

Kalau sifat deso ini melanda para da’I dan Aktivis, maka para Al-Mukarromuun itu dengan sangat mudah mencari segudang ayat dan hadits untuk dapat membenarkannya, jadilah da’I gaul, ustadz gaul, aktivis gaul yang dalam tanda petik. Sifat ngekor, ngikut, nunut, manut, ngintil, jiplak barat yang berasas matrialisme ini kemudian dikemas sedimikian rupa dengan hiasan ayat dan hadits, sehingga menjadi begitu memukau dan begitu indah didengarnya.

Sementara dibarat sendiri, sudah mulai banyak yang sadar bahwa mereka sedang terpuruk akibat nilai materialisme, sebagian mereka ada yang lari ke bandul kanan esktrim yaitu spiritual tanda petik, atau mereka mengembangkan faham humanis yang juga tanda petik. Sedikitnya bisa saya rasakan ketika menyaksikan sendiri kehidupan mereka.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali Dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana.

Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kereta, sementara yang akan di jemput pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai, Merk Holden baru tipe yang paling murah untuk ukuran Australia.

Yang menarik para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu , kalau tidak jeli mengamati gerak gerik mereka, kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikkuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan restoran. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya. Ternyata orang yang model begini buaanyak di sana.

Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai hp komunikator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata konsumen terbesar hp komunikator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat jepang ternyata wah ini yang deso siapa yaa, karena ternyata sepatu saya lebih bagus dari rata-rata yang mereka pakai.

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang di jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, makanannya, hobinya atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatanya di perusahaan.

Bisa jadi orang jepang akan pingsan kalo di ajak ke Pondok Indah melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah di jepang memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah SAW tidak membuat istana Negara dan Benteng Pertahanan ( khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja ), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan istana raja-raja Negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan ?, mengingat beliau sebagai kepala Negara. Jawabannya ya dimasjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Waktu di mekkah nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala Negara, punya hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang, dan ada jatah dari Allah untuk depergunakan sekehendak beliau, belum lagi hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya.

Ketika indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll, Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, atau sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, gedung tinggi, lapangan golf, ITC, MALL, TOS, Bar, Discotik Assesoris lux dan super mewah, Villa, Real Estate, dll, dsb, dst.

Di Pancoran mas Depok ada sekeluarga meninggal dunia karena makan ubi gadung, di Citayam ada kebun singkong tiap malam hilang pohon hanya satu batang yang dicabut, setelah diketahui ternyata tetangganya sendiri yang mencuri, diduga kuat hanya untuk makan keluarga, di Jakarta Utara ada sekeluarga meninggal setelah makan ikan hasil pancingan sang ayah, sekarang orang yang makan nasi aking sudah dianggap biasa, apalagi ketemu tiwul dan gaplek alhamdulillah, belum lagi cerita mereka yang masih tinggal di daerah pengungsian, sederet kepiluan yang bisa memakan lembaran kertas, lebih panjang lagi bisa diceritakan.

Sekali lagi bangsa ini tidak bisa diangkat harga dirinia hanya dengan symbol-simbol kemewahan, bangunan mercusuar, seremonial basa-basi, serta berbagai aktivitas pemborosan. Rakyat tidak akan kenyang dengan tumpukan medali hasil perolehan berbagai turnamen, yang kenyang hanya pengurus olah raganya saja. Siapakah yang bisa menikmati kalimat sakti “Keterbukaan” , Sementara sekian banyak aktivis masih “tertutup” kesempatannya untuk menyekolahkan anakknya di Sekolah Islam Terpadu, karena miskin. Sekian banyak kata tertutup bisa kita daftar untuk si Grass root dan wong cilik.

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalau hutang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi wanita tidak solat (WTS) , angka criminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global.

Maka tidak mungkin kerisis bangsa bisa diselesaikan jika kita masih deso, kata “krisis” diucapkan ribuan kali, bak orang awam lagi berzikir, sementara kata itu tidak dijadikan sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang menyusun orang-orang norak, maka asumsi dan paradigma yang dipakai dalam menusun APBD dan APBN adalah paradigma negara normal atau bahkan mengikuti negara maju.

Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola sebaesar 17 Milyar sementara anggaran kesranya cuma 100 juta, wiiieh!.. Masih ingat sejarah jas bupati 600 juta dan perawatan mobil dinas 2 milyar..? Aneh tapi nyata itulah Indonesia

Penyelewengan dalam hal keuangan Pak Harto dimulai ketika setelah 18 tahun jadi penguasa. Sebelumnya masih dianggap bersih. Sekarang kalau ada seorang pejabat Negara baru 3 tahun menjabat sudah bisa mengoleksi mobil mewah, rumah mewah, assesoris mewah, bisa dipastikan kalau dia menjabat sampai 32 tahun, maka jauh akan melebihi rekor Pak Harto.

Bisa dibayangkan kalo semua orang berfikir ingin punya pesawat pribadi, sehingga tidak berfikir lagi bagaimana transportasi publik terjangkau seluruh masyarakat. Kalau semua orang berfikir harus punya pesantren sendiri sehingga tidak ada lagi yang berfikir bagaimana caranya pendidikan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Semua orang berfikir punya ini dan itu pribadi sehingga tidak bisa berfikir bagaimana caranya ini dan itu bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Bisa saya pastikan akan hancur sehancurnya Negara ini. Sadarkah bahwa itu adalah pikiran Kapitalisme???

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan di negeri ini dari atas sampai bawah :

* Orang bisa antri raskin sambil pegang hp.
* Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok.
* Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli TV dan kulkas.
* Orang kampung mabuk, uangnya hasil patungan, sementara Orang bule mabuk kelebihan uang.
* Lagi mabuk muntah keluar kangkung, genjer toge.
* Pengemis bisa pake walkman atau MP3 sambil goyang kepala
* Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya.
* Orang mau membeli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah.
* Ijzah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur
* Kelihatannya orang sibuk ternyata masih intensive keluar masuk Mc Donald.
* Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan Jadi masih sempat ngurusin kulit bulat diisi angin
* Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp.
* 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja.
* Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi diacara tembang kenangan.
* Ada 3000 Tim Nasyid yang terdaftar, tapi belum pernah dengar ada Tim Riset dan Penlitian dari aktivis.
* Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor.
* Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar.
* Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan.
* Agar kelihatan inklusif maka harus bisa menggandeng siapa saja, kalo perlu jin tomang bisa digandeng.

Tinggal cari dalil “Khootibun Naas ‘alaa qudri ‘Uqulihim”, maka kita bisa ikuti trend apa saja yang ada di masyarakat. Apalagi kalo dipakai dalil “Al-harbul Khud’ah” maka sudah tidak diperlukan lagi halal dan haram.

Yang lebih mengerikan adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

Ada jurus sakti yang biasanya dipakai untuk meredam berbagai gejolak. Yaitu sebuah kalimat “Inikan sudah keputusan Syuro!” Entah sudah berapakali jurus itu digunakan. Dan hasilnya memang cukup efektif, alhamdulillah kita menjadi tenang lagi. Toh kalau ijtihadnya keliru masih dapat satu pahala. Tulisan ini bukan untuk menimbang dan menilai benar tidaknya sebuah hasil ijtihad, tentu sangat tidak levelnya saya seorang diri yang awam dibanding para masyaikh yang jumlahnya banyak.

Sekedar menuntut kejujuran sebuah kata yang terlanjur digulirkan yaitu: “Keterbukaan”. Sebuah kata yang sangat indah menjadi dagangan politik, walaupun belum tentu laris seperti yang pernah di perdagangkan oleh Amin Rais, yang ternyata kurang laris.

Betulkah kita sudah siap “terbuka” ?. Betulkah kata itu serius kita ucapakan..? bukan basa basi..? atau trik-trik politik..? Apakah kata “Terbuka” memang sebagaimana arti bahasa Indonesia..? bukan mengandung konotasi tertentu seperti menjaring non muslim..? Keseringan prinsip “Khud’ah” digunakan dikhawatirkan menjadi habit yang juga bisa menipu kadernya sendiri. Nauzubillah..!

Kita masih punya secercah harapan jika keterbukaan yang dimkasud menurut bahasa Indonesia, bukan konotasi lain. Terbayang oleh saya nantinya kita akan semakin erat dalam berukhuwwah, karena diantara kuncinya adalah saling mengenal dan memahami, itu bisa terjadi kalo ada “keterbukaan” baik dari atas kebawah maupun sebaliknya, sehingga tidak ada lagi dusta diantara kita.

Diantara keterbukaan itu adalah pengelolaan keuangan, baik sumber pemasukannya maupun penggunaannya. Sekedar ingin mengetahui landasan syar’I terutama dalam penggunaannya dan prosentasi pembagian kebawah seperti Rasulullaah mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman.

Kalau yang selalu jadi alasan kebutuhan diatas sangat banyak dan tidak mencukupi dari pemasukan yang ada, maka itu bukan alasan syar’I, tapi programnya yang tidak disesuaikan dengan kadar kemampuan. Di semua lini sampai ke bawah pun punya alasan yang sama nantinya.

Kalau alasanya diatas lebih penting dari yang dibawahya okelah kita terima, tapi yang dibawah jangan dijadikan ujung tombak lagi, dimana-mana yang namanya ujung tombah lebih besar dari batangnya, agar ketika dilempar meluncurnya lurus tepat sasaran, tidak melayang. Sangat aneh kalau ujung tombaknya kurus kerempeng tidak punya dana untuk rekruitmen. Akhirnya pada melayang dan sempoyongan.

Keterbukaan berikutnya adalah akses buat grass root dan wong cilik terutama kader kita sendiri untuk bisa turut mencicipi berbagai fasilitas yang sudah kita miliki, Seperti sekolah terpadu, lembaga keuangan, fasilitas diklat, mobil, villa dan sebagainya, sekali lagi sekedar bisa mencicipi.

Ironis sekaligus miris kalau sekolah-sekolah terpadu masih “tertutup” buat kader-kader Dhu’afa. Menyedihkan kalau ada panitia pelatihan kesulitan cari mobil karena kekurangan dana, sementara banyak mobil parkir seharian di SDIT, SMPIT dan IT-IT yang lain, sementara sang sopir main catur atau karambol sambil menunggu anak boss pulang sekolah.

Perlu dikasihani juga kalau ada pelatihan disebuah villa sederhana dg jumlah pesarta 150 orang, Cuma ada dua Kamar Mandi, karena tidak cukup dana untuk sewa yang lebih dari itu. Jangankan mandi buang air saja ada yang ditahan, atau pagi-pagi pergi kesungai. Sementara mereka melihat dengan google nun jauh disana, hotel tempat Al-Mukarromuun sedang bermusyawarah. Pikiran saya menerawang seandainya biayanya untuk beli cendol maka cukup untuk menutup danau toba, atau membeli kerupuk maka monas keurug habis. (maaf ini bukan mendramatisir), sampai dengan tulisan ini dibuat masih ada pelatihan-pelatihan yang sarananya sangat minim.

Keterbukaan berikutnya adalah akses informasi sumber dana bagi kader-kader barisan terdepan yang sering jungkir balik menyelenggarakan berbagai jenis pelatihan untuk rekruitmen terutama dilapisan bawah, baik itu remaja masjid, rohis sekolah dan kampus, dan lain-lain. Ada komentar yang sangat membuat dada sesak ketika saya coba perbincangkan tentang keadaan ini kepada salah seorang teman, dengan ringan teman saya menjawab “salahnya panitia tidak kreatif mencari dana” , tanpa bertanya lebih dahulu sudah sejauh mana usaha panitia.

Aneh kalau kita bisa keluarkan uang untuk sepanduk, baliho, stiker dan sejenisnya dengan jumlah yang aduhai sementara untuk membeli nasi bungkus ala warteg untuk peserta pelatihan panitia harus jungkir balik mencarinya. Ada keluarga yang begitu mudah dan seringnya keluar masuk supermarket, Mall, ITC hotel berbintang, sementara di pihak lain ada anak-anak aktivis yang kurang mampu tidak bisa masuk sekolah-sekolah terpadu bersama anak aktivis lainnya.

Berlebihankah saya dalam mengungkapkan ..? bagi yang jarang naik angkot dan kereta jabodetabek, sementara pemantauan hanya berasal dari kertas-kertas laporan yang suasananya dibuat persaingan menjadi yang terbaik, kunjungan-kunjungannyapun dengan protokoler, membuat panitia ingin berpenampilan keren, Maka boleh jadi menganggap ungkapan saya berlebihan. Tapi bagi yang sama sama mau turun dari menara gading ke bawah, mau bergaul tanpa protokoler, boleh jadi ini hanya bagian kecil kepiluan yang baru dapat saya rekam.

Kita sudah terlatih menjaga kebersihan hati dari sifat hasad, apalagi ketika melihat saudara kita punya fasilitas yang lebih, Alhamdulillah mudah-mudah kita turut menikmatinya. Kitapun percaya dengan taqdir bahwa Allah yang menetapkan rizki kepada seseorang berbeda-beda. Kita pun sudah terlatih untuk berqona’ah, menikmati apa yang sudah Allah SWT berikan kepada kita. Kalau ada saya yakin itu hanya kasus, tidak mungkin hanya karena itu membuat kita jadi gonjang-ganjing.

Telah terjadi kesenjangan yang sangat mencolok, antara kehidupan beberapa saudara kita dengan program dan aktivitas yang menjadi prioritas dan ungulan kita sendiri, bahkan kita sebut sebagai ruuh jama’ah ini, terutama aktifitas rekruitmen dilapisan paling bawah.

Yang kita persoalkan adalah berbagai jargon yang sering kita kumandangkan yaitu kata “Tarbiyah” dan “Dakwah”, bahkan ini menjadi amanah munas nomor satu. Betulkah ini sudah menjadi kebijakan yang sistemik dan Integral sampai kebawah berikut dukungan kebijakan infra dan supra struktur sampai pada kebijakan anggaran dan pendanaannya..?

Mari terbuka, lihat apa yang terjadi di kampus turun kebawah, lihat langsung, jangan pake protokoler, cari data second opinion..lihat pula aktivitas tarbiyah di lapisan bawah lainnya. Kalau masih tidak percaya maka saya serahkan sepenuh kepada Allah SWT.

Ya Allah hanya kepadamu saya mengadu dan saya meminta. Berilah petunjuk kepada kami agar kami mampu melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi dihadapan kami. Ya Allah berikan kami kemudahan untuk membaca realitas yang sesungguhnya dalam problem da’wah kami, sehingga kami bisa mengambil keputusan yang sebijak-bijaknya.

Ya Allah Hancurkan dan singkirkan dari hadapan kami teori Karl Marx yang berpendapat bahwa “Agama adalah alat ekspoitasi dan penindasan, sementara tokoh agamanya adalah sebagai penghisap”. Jauhkan teori itu dari aktivitas kami ya Allah.., sehingga da’wah kami menjadi Rahmatan lil ‘Alamin, bisa menyentuh dan menyantuni semua lapisan masyarakat.

Ya Allah lembutkan hati kami, sehingga kami punya rasa sensitivitas terhadap berbagai gejala dan gejolak yang ada dihadapan kami, serta kami ingin punya kepekaan yang tinggi terhadap berbagai persoalan yang menimpa saudara-saudara kami.

Ya Allah berikan kekuatan kepada kami untuk dapat berbicara kepada siapapun yang kami hadapi tanpa rasa takut dan sungkan, hiasi pula kami dengan akhlaq yang baik sehingga kami tahu cara dan jalan yang beradab, serta saluran yang benar ketika kami ingin berbicara memberikan masukan dan saran.

Ya.. Allaah tundukan serta jinakkan hati kami, perbaiki silaturahiim diantara kami, tunjukan kami jalan-jalan keselamatan, selamatkan kami dari tempat yang gelap ketempat yang penuh cahaya, singkirkan kami dari perbutan yang keji baik yang tampak atau yang tidak tampak.

Ya.. Allah berikan kepada kami keterampilan dalam melangkah, kecantikan dalam mengatur strategi, kejujuran dalam bersiasat, jauhkan kami dari trik-trik yang menimbulkan intrik, kasak-kasuk yang membuat busuk, lobi-lobi yang menjual harga diri kepada orang-orang yang Phoby, rekayasa yang membuat gelisah.

Ya.. Allah Engkau Maha mengetahui apa yang dalam hati kami. Oleh karena itu ya Allah.. Luruskanlah orientasi hidup kami semata-mata ingin mencari RidhoMu. Bersihkan perjuangan kami ya Allah dari berbagai kotoran yang menjermuskan kami, berikan kekuatan kepada kami untuk tetap Istiqomah dalam menapaki jalan da’wah ini. Amiien ya Robbal ‘Alamien.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. 3:185)

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (QS. 2:204)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya! (QS. 6:32)

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (QS. 10:24)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s