PELAKU PELECEHAN SEKSUAL DAPAT DIHUKUM?

Oleh : Joe Laluyan, SE, SH.

Beberapa waktu yang lalu, media Televisi menyiarkan dan memberitakan dengan gencar selama berhari-hari tentang amarah seorang artis terhadap lawan mainnyadalam suatu adegan shooting sebuah film layar lebar, dimana kedua orang berlainan jenis tersebut melakukan adegan memijat yang diperankan serta dilakukan oleh seorang aktor terhadap si artis lawan mainnya, tetapi tiba-tiba saja si artis marah terhadap perlakuan sang aktor yang dianggap telah berbuat sesuatu yang tidak senonoh dan menyimpang dari skenario, sang aktor dituding melakukan adegan pijat melebihi dari yang telah ditentukan skrip dalam skenario film tersebut, si artis sangat marah dan merasa bahwa aktor tersebut telah berakting dengan melakukan improvisasi yang sangat berlebihan.
Kejadian di atas merupakan pelanggaran etika kesusilaan atau lebih popular disebut “Pelecehan Seksual”, yang dilakukan aktor terhadap artis sesama insan perfilman, selain dapat menjurus kepada masalah hukum, kejadian ini juga terpaksa menyeret Produser Film itu untuk turun tangan berupaya menyelesaikan permasalahan tersebut agar tidak meluas menjadi masalah hukum. Hal-hal demikian sangat banyak terjadi di dalam masyarakat, namun memang selama ini tidak terungkap kepermukaan karena berbagai hal serta alasan dari si korban maupun pelaku kejadian tersebut. Sebetulnya mengapa hal tersebut bisa luput dari pemberitaan maupun ancaman hukuman?

Ketika kita membahas tentang Pelecehan Seksual maka hal yang langsung terkait disini adalah etika dan moralitas, kejadian antara aktor dan artis perfilman diatas adalah masalah yang sangat mudah menyulut kemarahan dan dapat diproses secara hukum kemudian diadili karena terjadi dihadapan publik (saat dilakukan shooting film), akan tetapi karena hukum yang khusus (Lex Spesialis) terkait dengan kesopanan setahu penulis belum ada, maka Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) secara umum (Lex Generalis) dapat dijadikan landasan dengan ancaman hukuman seperti yang diatur dalam Pasal 281-299 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Kejahatan terhadap Kesopanan kemudian dapat diangkat kepermukaan menjadi perkara di pengadilan.

Pelecehan Seksual sendiri sebenarnya kejahatan yang cukup berat karena dapat diancam mulai dari hukuman dua tahun delapan bulan atau denda (Pasal 281, KUHP), hingga yang sangat berat Ancaman hukumannya bila pelecehan menjadi pemerkosaan (dua belas tahun penjara), sesuai Pasal 285 KUHP. Pelecehan seksual menurut beberapa ahli hukum di sebut sebagai tindakan coba-coba yang kebablasan saja, karena bila tidak ada protes dari subyek, maka perbuatan tersebut menjadi “Suka Sama Suka” dan berujung menjadi happy ending (perselingkuhan), walaupun dilakukan oleh sepasang insan manusia yang tidak semestinya melakukan. Apabila pelecehan seksual terjadi di dalam kehidupan suami istri, maka akan timbul ancaman hukum seperti yang telah diatur dalam Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana menghindar dari tindakan pelecehan seksual, bagaimana mencegahnya serta bagaimana menuntutnya, bila kita mengaalami hal tersebut.

I. ANCAMAN HUKUM PELAKU PELECEHAN SEKSUAL

Seperti telah disinggung diatas bahwa pelecehan terjadi apabila seorang wanita menganggap tindakan, baik perlakuan serta ucapan maupun isyarat tubuh si pelaku dianggap telah melanggar kesopanan dan yang terpenting sebagai seorang wanita tidak mengendaki perlakuan si pelaku tersebut, maka apabila pelecehan terjadi, perbuatan tersebut dapat diancam dengan ancaman hukuman seperti yang terdapat dalam Pasal-pasal berikut ini:

1. Pencabulan, diancam dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 289, 296;

2. Penghubungan Pencabulan KUHP pasal 295, 298, 506;

3. Kejahatan terhadap Kesopanan KUHP Pasal 281 – 299, 532, 533, dan lain-lain.

II. MASALAH PENEGAKAN HUKUM PELAKU PELECEHAN SEKSUAL

Seperti tindakan kejahatan lainnya, maka sebetulnya untuk dapat menyeret si pelaku pelecehan seksual tersebut diperlukan syarat-syarat tertentu, agar si pelaku dapat diadili sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku yaitu seperti terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 1, sebagai berikut:

1. Adanya Saksi, sekurang-kurangnya 2 (dua) orang;

2. Keterangan Ahli/Saksi Ahli;

3. Surat/Dakwaan;

4. Petunjuk;

5. Dan Keterangan Terdakwa.

Melihat dari isi pasal di atas, maka kesulitan yang terutama dalam kasus pelecehan seksual adalah menghadirkan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi dalam proses perkara tersebut, karena umumnya perlakuan melecehkan seseorang dilakukan dalam lingkungan tertutupdan terbatas, atau kalaupun terbuka hanya sedikit oang yang mau dijadikan saksi atas kejadian tersebut, sehingga masalah pelecehan seksual seringkali mengakibatkan kerugian bagi wanita dari pada si pelaku, bahkan tidak jarang karena tekanan tertentu, maka perbuatan pelecehan menjadi perbuatan perselingkuhan yang ahirnya menyeret kedua insan tersebut kedalam pelaku perzinahan, dengan demikian apabila hal ini terjadi sudah barang tentu ancaman Pasal-pasal diatas,lebih sulit lagi diungkapkan untuk diseret ke meja hijau.

III. KEWENANGAN POLISIDalam Pasal 108, Ayat 1, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mengatakan: Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada Penyelidik dan atau Penyidik baik lisan maupun tertulis. Isi pasal ini mengandung arti bahwa bila seseorang mengalami, menyaksikan dan atau menjadi korban suatu peristiwa yang merupakan tindak pidana, maka mengadukan atau melaporkan hal tersebut merupakan hak, bukan kewajiban, dengan demikian tindakan hukum terhadap pelaku pelecehan kalau tidak dilaporkan, maka Polisi atau Penyidik tidak dapat memprosesnya menjadi suatu perkara pidana, kecuali perbuatan tersebut diketahui atau ketangkap tangan oleh petugas yang berhak, maka menjadi kewenangan petugas untuk memproses perkara itu (Pasal 111, Ayat 1, KUHAP). Peristiwa pelecehan seksual tanpa laporan dan ketangkap tangan, maka kewenangan hanya ada dilingkungan peristiwa tersebut terjadi.

IV. PENCEGAHAN

Seperti telah disinggung diatas bahwa etika dan moral adalah memegang peranan penting atas terjadinya pelanggaran Hak Azasi Manusia, khususnya pelecehan seksual. Mengutip Kompas.com, bersama ini kami sampaikan beberapa cara menghindarkan dan mencegah terjadinya Pelecehan Seksual sebagai berikut:

1. Tidak menggunakan busana yang dapat mengundang perhatian serta dapat menimbulkan niat lawan jenis untuk melakukan perbuatan yang melecehkan seksualitas;

2. Membuat catatan tentang identitas pelaku, lokasi, tempat kejadian, saksi, perilaku atau ucapan yang dianggap melecehkan;

3. Bicarakan dengan orang lain tentang pelecehan seksual yang terjadi. Bisa kepada teman atau orang lain yang kita percaya;

4. Ungkapan perasaan kita tentang kejadian itu, atau bisa juga dengan memberitahukan perasaan kita pada orang yang ada di sekitar tempat kejadian;

5. Beri pelajaran pada si pelaku dengan memberitahukan langsung kepada pelakunya bahwa kita tidak suka dengan tindakannya atau isyarat tubuh;

6. Segera melaporkan tindakan pelecehan seksual setelah kejadian, kepada yang berwajib ataupun orang terdekat yang berwenang, misalnya bila kejadian terjadi dilingkungan kerja, segera laporkan kepada pimpinan si pelaku.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa tindakan pelecehan seksual, dimanapun lingkungannya, baik lingkungan kerja, lingkungan kampus maupun tempat-tempat umum, dapat dihindarkan dengan mudah seperti diajarkan dalam ajaran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, yaitu berperilaku baik dengan berpakaian serta bertutur kata sopan layaknya seorang Kristen, karena sebagai pengikut Kristus, sudah seharusnya kita hidup sesuai ajaran-Nya, dengan demikian tindakan yang tidak diinginkan dapat dihindarkan. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s