“Munas Menjadi Gerbang Konsolidasi”

OC Munas Peradi
“Munas Menjadi Gerbang Konsolidasi”
[Selasa, 27 April 2010]
Soal one man one vote. “Ibarat baju baru, coba dulu baru tahu cocok atau tidak. Jangan, baju belum dicoba tetapi sudah bilang baju itu tidak bagus. Ukuran kita tetap anggaran dasar.”

Julius Rizaldi (kiri) dan Hasanuddin Nasution (kanan), dua punggawa
OC Munas I Peradi di Pontianak, 30 April-1 Mei 2010.
Foto: Sgp

Berdiri lima tahun silam, Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) akhirnya akan menggelar musyawarah nasional (munas) perdana. Kalau tidak ada aral melintang, munas akan digelar di Pontianak, Kalimantan Barat, 30 April 2010 hingga 1 Mei 2010. Menjelang hari pelaksanaan acara munas, DPN Peradi telah berupaya menyiapkan berbagai hal.

Salah satu yang utama adalah pembentukan panitia pelaksana munas atau organizing committee (OC). Oktober tahun lalu, DPN Peradi telah menunjuk Julius Rizaldi dan Hasanuddin Nasution sebagai Ketua dan Sekretaris OC. Dalam struktur DPN sendiri, Julius tercatat sebagai Wakil Bendehara dan Hasanuddin sebagai salah seorang Wakil Sekretaris Jenderal.

Begitu dipilih, Julius dan Hasanuddin langsung bergerak menindaklanjuti persiapan menuju munas. Sosialisasi dan penyusunan materi acara serta tata tertib munas telah dirampungkan oleh OC. Hasilnya, per 20 April 2010, sebanyak 29 dari 50 DPC Peradi di seluruh Indonesia telah mengkonfirmasi akan hadir dalam munas, dan sudah menyerahkan lampiran siapa utusan dan peninjau.

Sulit dipungkiri, peran OC memang sangat penting dalam mensukseskan munas. Tidak hanya karena ini merupakan pergelaran perdana. Namun, lebih dari itu, sebagian kalangan advokat tentunya berharap munas menjadi gerbang pembenahan Peradi yang sejak dideklarasikan di Balai Sudirman pada 7 April 2005 “diniatkan” menjadi wadah tunggal advokat sebagaimana amanat UU No 18 Tahun 2003.

Kondisi terkini, sebagaimana rutin diberitakan hukumonline, organisasi advokat telah bisa dibilang dalam kondisi kritis. 30 Mei 2008 bertempat di gedung yang sama ketika Peradi lahir, sebuah organisasi baru bernama Kongres Advokat Indonesia (KAI). Setelah itu, organisasi lawas Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) juga “hidup” kembali. Baru-baru ini muncul pula Federasi Advokat Indonesia (FAI) dan Majelis Advokat Indonesia (Madina).

Dari berbagai kejadian beberapa tahun belakangan ini, sudah jelas bahwa salah satu misi penting yang (seharusnya) diusung Munas I Peradi adalah konsolidasi. Munas semestinya mampu mengembalikan euforia ketika UU Advokat lahir tujuh tahun silam, bahwa advokat berniat bersatu. Hakikatnya, kunci pembenahan organisasi advokat berada di tangan seluruh advokat Indonesia yang aspirasinya akan dibawa oleh utusan DPC mereka masing-masing pada munas nanti. Namun, sekali lagi, peran OC juga penting. Setidaknya untuk memastikan jalannya munas tetap kondusif agar tujuan sebagaimana digariskan anggaran dasar organisasi tercapai.

Untuk mengetahui lebih lanjut persiapan serta kiat-kiat OC agar Munas I Peradi berjalan sukses, hukumonline berkesempatan mewancarai Julius Rizaldi dan Hasanuddin Nasution, Selasa lalu (20/4), di sebuah hotel di Jakarta. Berikut petikan wawancaranya:

Kapan dan bagaimana ceritanya hingga anda terpilih sebagai OC?

Hasanuddin Nasution (HN): Mungkin kalau dihitung dengan bulan, sekitar Oktober (2009).  Pertama kali, DPN Peradi rapat di gedung baru sebelum selesai. Rapatnya di lorong di depan lift. Sementara, kita kan pindah ke situ (gedung baru, red.) tanggal 16 November (2009).

(Saat ini sekretariat DPN Peradi berada di Gedung Grand Soho di bilangan Slipi, Jakarta Barat. Sebelumnya, DPN Peradi berkantor di Menara Kebon Sirih lalu pindah ke Gedung Ario Bimo, Kuningan, Jakarta Selatan, Red.).

Rapat dihadiri oleh Ketum (Otto Hasibuan), Sekjen (Harry Ponto), Bendahara Umum (M Luthfie Hakim), Pak Denny (Kailimang, Ketua DPN Peradi), Pak Hoesein (Wiriadinata, Wakil Sekjen DPN Peradi), Sugeng (Teguh Sentosa, Wakil Bendahara DPN Peradi), Pak Julius, dan saya.

Julius Rizaldi (JR): Kemudian setelah rapat, dikeluarkan Keputusan DPN Peradi oleh Ketum dan Sekjen. Setelah diberikan mandat, kita ada SK pengembangan membentuk panitia. Setelah itu, barulah kita persiapkan. Kemudian, sesuai anggaran dasar, ada pemberitahuan kepada DPC-DPC.

Pertama, pemberitahuan dari DPN. Intinya, bahwa pemberitahuan munas akan dilaksanakan pada tanggal 30 April dan 1 Mei. Diminta kepada rekan-rekan DPC untuk melakukan rapat anggota di cabang. Menetapkan jumlah utusan cabang, sebagaimana diatur dalam Pasal 32 ayat (3). Setiap cabang mengirimkan utusan cabang dan mengirimkan peninjau dengan ketentuan yang diatur panitia munas.  Surat DPN itu ditandatangani oleh Harry Ponto sebagai Sekjen dan Otto Hasibuan sebagai Ketua Umum.

Surat kedua adalah undangan Munas Peradi, tertanggal 12 Maret 2010. Ini surat OC. Karena setelah DPN memberitahukan kepada DPC-DPC kita akan munas, baru kita laksanakan sesuai perintah dari surat DPN, kita jalankan surat ini. Ada tercatat semuanya, dikirim ke seluruh DPC. Rancangan agenda sudah dibuat oleh steering committee. Ini baru rancangan, nanti dilempar ke sidang untuk disahkan oleh floor.

Dari tanggal surat OC 12 Maret itu, dalam satu bulan, selambat-lambatnya DPC harus menyerahkan segala hasil instruksi. Satu bulan, berarti 12 April. Sementara, penyelenggaraan munas 30 April, berarti lebih dari satu bulan. Jadi, waktunya cukup. Setelah itu, kita bentuk panitia pusat dan daerah. Jumlahnya, OC pusat dan daerah adalah 174 orang. Sebagian besar advokat, dicampur dengan staf sebagai pendukung. 11 April lalu kita sudah rapat koordinasi di Pontianak.

Kenapa Pontianak yang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan?

JR: Berdasarkan rapat DPN tanggal 12 Februari 2009 ditentukanlah bahwa tempat penyelenggaraan munas adalah di Pontianak. Dalam rapat DPN yang dihadiri oleh tujuh pengurus DPN terdiri dari Ketum, Saya, Sugeng, Elza Sjarief mewakilkan kepada saya, Trimedya (Panjaitan, Ketua DPN Peradi), Hasanuddin Nasution, dan Hoesein. Sesuai anggaran dasar Peradi, bilamana dihadiri oleh 50 persen ditambah satu, maka bisa diambil suatu keputusan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s