“Menghadapi Kesulitan Hidup”

Apa yang sesungguhnya membedakan seorang yang sukses dengan orang rata-rata? Bukan karena kepandaian, kekuatan, ataupun kekayaan yang dimilikinya, tetapi yang membuat seseorang sungguh-sungguh hebat adalah karena mereka mengetahui bagaimana caranya menanggung penderitaan yang tak terperikan dan bagaimana menahan yang tak tertanggungkan.

Pengelola rubrik:
Aribowo Prijosaksono, Roy Sembel, dan Tim ManDiri

Aribowo Prijosaksono (email:aribowo_ps@hotmail.com) dan Roy Sembel (http://www.roy-sembel.com) adalah co-founder dan direktur The Indonesia Learning Institute – INLINE (http://www.inline.or.id), sebuah lembaga pembelajaran untuk para eksekutif dan profesional.

Oleh
ARIBOWO PRIJOSAKSONO

Sepanjang sejarah umat manusia, telah tertulis berbagai kisah manusia hebat yang mencapai tingkatan tertinggi dalam sejarah masyarakat dunia, seperti misalnya: Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Soekarno, dan masih banyak kisah mereka yang berjuang dalam penderitaan yang luar biasa tetapi akhirnya keluar sebagai pemenang.
Seorang penulis buku terkenal John Gray pernah menulis: ”Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh. ” Jadi sebenarnya kesulitan hidup bukanlah akhir dari segalanya, melainkan justru permulaan bagi kita untuk naik ke taraf kehidupan yang lebih baik. Adalah kesempatan kita untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik.
Sesungguhnya Tuhan menganugerahkan kepada kita semua kemampuan dan kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan yang sering kali sampai pada batas-batas daya tahan kita sebagai manusia. Namun jika kita tetap bisa bertahan dan memiliki keyakinan yang kuat, kita pasti dapat menahan penderitaan itu.

Kekuatan dalam Menghadapi Penderitaan
Kisah yang luar biasa yang menggambarkan betapa manusia memiliki kekuatan bertahan (the power of survival) yang luar biasa adalah kisah tentang ahli jiwa terkenal, Victor Frankl.
Frankl adalah seorang psikolog keturunan Yahudi. Ia dipenjara dalam kamp konsentrasi maut Nazi Jerman, tempat ia mengalami penderitaan akibat penyiksaan yang di luar batas-batas kemanusiaan. Orang tuanya, saudara laki-lakinya, dan juga isterinya meninggal di kamp konsentrasi tersebut atau dikirim untuk dibunuh di kamar gas.
Selain seorang saudara perempuannya, seluruh keluarganya telah terbunuh dalam insiden sejarah gelap umat manusia. Dia sendiri mengalami penderitaan akibat siksaan dan penghinaan yang tak terperikan, tanpa pernah tahu dari satu hari ke hari yang lainnya apakah ia akan berakhir di kamar gas atau di kuburan massal di depan algojo tembak tentara Nazi. Atau akankah dia berada di antara mereka yang selamat yang akan menyingkirkan mayat-mayat atau menyerok keluar abu mereka yang sudah menemui ajalnya.
Untuk dapat membayangkan penderitaan Victor Frankl, saya sarankan Anda menonton film garapan sutradara Steven Spielberg yang berjudul Schindler’s List atau film Itali yang berjudul Life is Beautiful.
Kedua film itu sangat menyentuh perasaan kemanusiaan saya, tetapi sekaligus menyadarkan kepada kita bahwa kebebasan maupun kebahagiaan itu tidak dapat direnggut oleh siapa pun asalkan kita tetap bertahan dan memiliki keyakinan. Inilah yang disebut oleh Frankl sebagai ”the last of the human freedom” atau kebebasan yang terakhir yang dimiliki oleh manusia, yaitu kebebasan untuk memilih dan menciptakan realitas yang kita inginkan dalam hidup ini.

Kekuatan Pikiran untuk Bertahan Hidup
Dikisahkan lebih lanjut bahwa di tengah penderitaannya di Kamp Konsentrasi Nazi, Frankl kemudian memvisualisasikan dirinya pada keadaan-keadaan yang berbeda, misalnya sedang memberikan kuliah pada para mahasiswanya sesudah dilepaskan dari kamp maut tersebut. Di dalam pikirannya, ia menggambarkan dirinya berada di dalam ruang kuliah dan memberikan pelajaran tentang apa yang ia pelajari selama menjalani siksaan.
Melalui serangkaian kedisiplinan diri secara mental dan emosional ia melatih dirinya dengan menggunakan visualisasi membuahi pikirannya sehingga tercipta embrio kebebasan di dalam pikiran bawah sadarnya. Kemudian dengan disiplin dia menumbuhkembangkan embrio kebebasan itu menjadi lebih besar daripada orang-orang Nazi yang menangkapnya.
Meskipun para sipir penjara itu secara fisik adalah manusia merdeka, tetapi secara mental Frankl memiliki kebebasan yang lebih besar. Ia memiliki kekuatan batin yang lebih besar dan menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan bagi beberapa sipir penjara. Ia menolong orang lain menemukan arti penderitaan dan martabat mereka dalam keberadaan mereka di kamp konsentrasi dan diperlakukan lebih rendah dari seekor binatang.
Di tengah keadaan yang paling hina tersebut, Frankl menggunakan anugerah Tuhan berupa kekuatan untuk bertahan (the power of survival) melalui kekuatan pikirannya (the power of mind) dan kekuatan impian dan keyakinannya (the power of dreams) dengan senantiasa fokus (the power of focus) pada impiannya tersebut.
Ia selanjutnya melatih dirinya dalam penciptaan realitas yang diimpikannya melalui serangkaian kedisiplinan diri (the power of self-discipline) sehingga dia dapat mempelajari secara lebih jauh keberadaan dirinya dan kekuatan yang dimilikinya (the power of learning).
Puncak dari itu semua adalah kekuatan kasih yang dimilikinya (the power of love) yang memungkinkan dia memiliki kedamaian diri dan kerinduan untuk membantu dan memberi semangat serta inspirasi bagi orang-orang di sekelilingnya untuk dapat bertahan dan menemukan kembali martabat kemanusiaan mereka yang terhempas akibat perlakuan yang tidak berperikemanusiaan dari tentara Nazi.
Seberat apa pun beban penderitaan yang kita alami, selama kita memilih untuk tetap bertahan dan fokus kepada impian-impian kita, tidak ada satu pun penderitaan atau kesulitan yang dapat menghalangi kita mencapai hal-hal terbaik yang kita impikan dalam kehidupan ini.

Tetaplah Bergerak dan Lakukan Sesuatu
Kita tidak boleh mempunyai pikiran sedikit pun bahwa jika kita mengalami penderitaan yang sedemikian berat dan menekan, maka dunia kita akan berakhir. Dunia kita akan sungguh-sungguh berakhir jika kita menyerah dan diam dalam keputusasaan.
Berikut ada suatu ilustrasi menarik yang saya ceritakan dalam buku saya yang berjudul Create Your Own Cheese yang dapat menggambarkan hal ini. Kisah ini adalah tentang seorang pendaki puncak Everest di pegunungan Himalaya, puncak tertinggi di dunia.
Dalam dunia pendaki gunung, mendaki dalam kondisi buruk merupakan ujian paling hebat bagi seorang manusia. Tanpa semangat juang tinggi, setiap pendaki akan merasa seakan mati sedikit demi sedikit saat berjuang dengan sia-sia melawan keganasan alam.
Seorang pendaki bernama Beck Weathers berjuang sendirian menghadapi badai ganas yang berhembus dengan kecepatan 100 mil per jam dengan angin sedingin ratusan derajat Fahrenheit di bawah nol.
Banyak alasan yang bisa membawa Weathers untuk menyerah. Dia telah menghadapi gunung itu dan kalah. Dia kekurangan bekal, kehilangan timnya, tidak punya tempat berteduh, dan tidak ada kemungkinan untuk bertahan hidup. Namun karena dihadapkan pada kematian, sesuatu dari dalam dirinya terus memicu untuk terus mengalahkan gunung yang jauh lebih besar daripada gunung yang pernah dia daki sebelumnya.
Dengan tubuh beku, lelah, sendirian, dan setengah hidup, Weathers merasa harus terus bergerak, berdiri, dan menempuh kembali perjalanan yang berbahaya menuju base camp. Sebuah perasaan yang sangat mendalam menggugahnya untuk bertindak.
Saat terlentang di salju itu, katanya, ”saya bisa melihat wajah istri dan anak-anak saya dengan sangat jelas. Saya membayangkan bahwa saya masih punya tiga atau empat jam lagi untuk hidup, sehingga saya mulai berjalan.” Bagi Weathers, beberapa jam berikutnya terasa seperti berabad-abad. Dia mengetahui bahwa beristirahat berarti mati, diapun terus berjalan.
Dia terus berjalan sampai akhirnya jatuh pingsan di salju. Malam harinya, sekelompok regu penyelamat menemukan Weathers dan membawanya ke tenda dan menempelkan botol berisi air panas di dadanya. Beberapa saat kemudian jauh di dalam dirinya, Weathers merasakan sesuatu yang kemudian membangkitkan dirinya dari ujung kematian.
Inilah prinsip yang perlu kita ketahui pada saat mendaki gunung. Jika menghadapi badai (hujan atau salju) kita tidak boleh beristirahat karena diam atau beristirahat berarti mati. Kita harus tetap berjalan agar tetap bertahan hidup. Demikian pula dalam badai kehidupan, jika kita menyerah berarti mati. Kita harus tetap bergerak meskipun dalam keputusasaan.
Chin – Ning Chu, dalam bukunya Thick Face, Black Heart menuliskan bahwa semangat bertahan adalah sifat yang harus ada dalam penjelajahan pertumbuhan pribadi. Semangat ini dimulai oleh para perintis dan pendiri negara Amerika Serikat.
Melalui daya tahan dalam setiap krisis itulah bangsa Amerika dilahirkan dan menjadi besar. Bertahan dengan daya tahan, memahami kesulitan, bertahan dari kesukaran, dan tabah menghadapi siksaan merupakan kunci sukses bagi setiap orang.
Apa yang menjadikan seseorang benar-benar hebat adalah mengetahui bagaimana cara menanggung penderitaan yang tak terperi dan menahan yang tak tertahan. Semua orang pasti tahu bagaimana bisa tumbuh dan berkembang dalam saat-saat tidak ada kesukaran. Namun masa ujian itulah yang justru dapat membedakan mana orang yang benar-benar berisi dan mana orang-orang yang hanya memiliki citra.

Tetap Percaya dan Mengucap Syukur
Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, Tuhan senantiasa turut bekerja untuk melepaskan saya dalam setiap kesulitan dan penderitaan. Sehingga dengan keyakinan tersebut saya bisa selalu mengucap syukur atas segala perkara yang terjadi dalam kehidupan saya.
Keyakinan atau iman inilah yang membuat saya terus bergerak, selangkah demi selangkah meskipun saya tidak bisa melihat ke mana jalan hidup saya menuju. Keyakinan akan pernyataan Tuhan memberi saya kekuatan untuk bergerak. Janji-Nya bahwa segala sesuatu adalah untuk mendatangkan kebaikan memberi saya harapan bahwa setiap langkah saya — sekecil apa pun – semakin mendekatkan diri saya pada rencanaNya yang terbaik untuk saya.
Kesulitan dan penderitaan janganlah membuat kita berhenti dan menyerah, karena jika kita berhenti maka berarti kematian.
Saya terus berusaha maju selangkah demi selangkah. Saya menyadari berhenti berarti kematian bagi saya (ingat bahwa putus asa dan menyerah sama dengan kematian secara mental!). Dengan kombinasi antara prinsip terus bergerak (kalau tidak berarti mati) dan keyakinan akan pernyataan Tuhan dan janji kebaikan bagi kita saya terus melangkah satu per satu sampai akhirnya saya menemukan tempat atau kebaikan yang dijanjikanNya.

Krisis dan Peluang
Karakter bahasa Cina untuk kata ”krisis” dibentuk dengan menggabungkan dua karakter dasar, yaitu ”kesulitan” dan ”peluang”. Kaum bijak Cina menyadari sifat sejati dari krisis yang sesungguhnya memiliki sisi peluang yang tersamar, seperti halnya pepatah yang mengatakan, ”If God close the door, He will open the windows.”
Jika Tuhan menutup pintu, Ia akan membuka jendela. Bahkan dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Tuhan tidak akan menguji manusia di luar kekuatan yang dapat ditanggungnya, sehingga Dia akan memberikan kita jalan keluar sehingga kita bisa mengatasi setiap kesulitan dan penderitaan kita.
Di sini Tuhan tidak saja menghentikan penderitaan atau kesulitan hidup kita, tetapi Dia memberikan jalan keluar atau peluang yang tersamar sehingga kita bisa keluar dari penderitaan kita.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan kutipan dari salah satu tokoh idola saya, yaitu Mahatma Gandhi sebagai berikut:
Bimbingan Tuhan sering muncul saat cakrawala dalam keadaan paling gelap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s