Perlunya Ikrar Wakaf Dalam Perwakafan

Written by Edy Rachmad on Monday, 12 July 2010 06:37

Setelah pewakaf dan/atau nazhir meninggal dunia sering terjadi persoalanSalah satu unsur penting dalam perwakafan adalah “Ikrar Wakaf”. Ikrar wakaf merupakan pernyataan dari orang yang berwakaf (wakif) kepada pengelola/manajemen wakaf (nazhir) tentang kehendaknya untuk mewakafkan harta yang dimilikinya guna kepentingan/tujuan tertentu.

Perwakafan tanpa ikrar wakaf tentunya akan mengakibatkan tidak terpenuhinya unsur perwakafan. Kalau unsur perwakafan tidak terpenuhi, maka secara hukum otomatis perwakafan tersebut dapat dikatakan tidak pernah ada. Untuk membuktikan adanya ikrar wakaf, adalah dengan cara menuangkan ikrar wakaf tersebut kedalam Akta Ikrar Wakaf (AIW) yang dibuat Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW).

Dalam praktik perwakafan sehari-hari, banyak persoalan perwakafan yang timbul. Penyebab timbulnya persoalan ini antara lain karena ikrar wakaf tidak memenuhi ketentuan sebagaimana mestinya. Pewakaf mewakafkan hartanya hanya dengan lisan saja kepada nazhir (biasanya seorang guru agama atau tokoh agama), bahkan terkadang tanpa ada saksi sama sekali.

Akibatnya, setelah pewakaf dan/atau nazhir meninggal dunia sering terjadi persoalan. Antara lain terjadinya sengketa antara nazhir dengan keluarga atau ahli waris pewakaf. Atau sebaliknya nazhir meninggal dunia, kemudian harta wakaf dikuasai oleh keluarga atau ahli waris nazhir. Akhirnya banyak terjadi harta wakaf yang tidak jelas status dan keberadaannya lagi.

Untuk meminimalisir persoalan-persoalan yang mungkin timbul terhadap harta wakaf dikemudian hari, maka peraturan perundangan mencantumkan ikrar wakaf merupakan salah satu unsur yang harus dipenuhi pada saat perwakafan dilangsungkan di depan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf.

Prosedur kkrar wakaf

Peraturan perundangan mengenai perwakafan mensyaratkan bahwa ikrar wakaf dari pewakaf kepada nazhir harus dilaksanakan di depan PPAIW. Ikrar tersebut disaksikan oleh dua orang saksi yang memenuhi persyaratan sebagai saksi, yaitu dewasa, beragama Islam, berakal sehat dan tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.

PPAIW adalah pejabat yang ditunjuk untuk membuat AIW yang ditetapkan oleh Menteri untuk membuat Akta Ikrar Wakaf. Sampai dengan saat ini, PPAIW dijabat oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) yang ada di setiap kecamatan.

Ikrar wakaf tersebut dapat dinyatakan secara lisan dan/atau tulisan di hadapan PPAIW, kemudian oleh PPAIW ikrar wakaf tersebut dituangkan dalam satu akta yang disebut dengan AIW. Sedangkan Akta Ikrar Wakaf merupakan bukti pernyataan kehendak orang yang berwakaf untuk mewakafkan harta miliknya untuk dikelola oleh nazhir sesuai dengan peruntukannya yang dituangkan dalam akta.

Apabila wakif tidak dapat secara langsung mengucapkan ikrar wakaf di hadapan PPAIW dengan alasan yang dibenarkan oleh hukum. Maka wakif dapat menunjuk kuasanya untuk melaksanakan ikrar wakaf dengan surat kuasa, dengan ketentuan surat kuasa tersebut diperkuat oleh dua saksi yang memenuhi persyaratan.

Perlu diketahui, pembuatan AIW untuk benda yang tidak bergerak (seperti tanah dan satuan rumah susun) hendaklah orang atau pihak yang hendak berwakaf menyerahkan sertifikat hak atas tanah atau sertifikat satuan rumah susun atau tanda bukti lain pemilikan tanahnya. Demikian pula wakaf atas benda-benda bergerak lainnya (selain uang), pada saat pembuatan AIW harus diserahkan bukti kepemilikannya. Misalnya seseorang hendak mewakafkan mobil angkutan penumpang atau kenderaan bermotor lainnya, pada saat pembuatan akta ikrar wakaf di hadapan PPAIW sekaligus diserahkan Bukti Kepemilikan Kenderaan Bermotor (BPKB) atas kenderaan yang hendak diwakafkan.

Khusus untuk wakaf uang, ada pengecualian bahwa pada saat mewakafkannya tidak diperlukan bukti kepemilikannya. Sebab uang tidak memerlukan adanya surat bukti kepemilikan uang, dan lazimnya pemilik uang adalah orang yang menguasai/memegang uang tersebut (mengenai prosedur wakaf uang akan dijelaskan tersendiri).

Selain itu perlu dikemukakan, bahwa di masyarakat banyak perwakafan yang belum dibuat Akta Ikrar Wakafnya. Sedangkan pewakaf sudah meninggal dunia atau tidak diketahui lagi keberadaannya. Bagaimana jalan keluarnya? Apabila perbuatan wakaf tersebut sudah diketahui umum atau ada petunjuk (qarinah) bahwa sudah ada perwakafan dan dua orang saksi. Maka atas perwakafan tersebut dapat dibuat Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf oleh PPAIW.

Akta Ikrar Wakaf paling sedikit harus memuat penjelasan mengenai: nama dan identitas orang yang berwakaf (wakif), nama dan identitas pengelola, manajer wakaf (nazhir), nama dan identitas saksi, data dan keterangan harta benda wakaf, peruntukkan harta benda wakaf dan jangka waktu wakaf.

Apabila pihak yang berwakaf adalah organisasi atau badan hukum, maka yang hadir dan tercantum namanya dalam Akta Ikrar Wakaf adalah nama pengurus organisasi atau direksi badan hukum yang akan mewakafkan atau sesuai ketentuan yang ada dalam ketentuan anggaran dasar organisasi atau badan hukum tersebut. Misalnya organiasi X hendak mewakafkan hartanya, maka yang harus hadir dan tercantum namanya dalam AIW adalah Pengurus organisasi X, biasanya Ketua dan Sekretaris atau Bendahara. Sedangkan apabila yang hendak berwakaf adalah badan hukum, misalnya Perseroan Terbatas Sukses Makmur, maka yang hadir dan tercantum namanya dalam AIW adalah direksi PT. Sukses Makmur tersebut.

Demikian juga halnya mengenai manajer wakaf (nazhir). Apabila nazhir tersebut organisasi atau badan hukum wakaf, maka nama yang tertulis sebagai nazhir dalam akta ikrar wakaf tersebut adalah nama yang ditetapkan oleh pengurus organisasi atau direksi badan hukum wakaf yang bersangkutan. Misalnya kalau yang ditunjuk untuk menjadi nazhir wakaf itu adalah organisasi/Persyarikatan Muhammadiyah, maka sesuai ketentuan Anggaran Dasar Muhammadiyah nama nazhir yang tertulis dalam Akta Ikrar Wakaf adalah Persyarikatan Muhammadiyah. Demikian pula kalau yang menjadi nazhir badan hukum. Intinya nama nazhir yang ditulis harus sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Anggaran Dasar masing-masing organisasi dan badan hukum yang bersangkutan.

Oleh karena itu, apabila harta wakaf milik organisasi dan badan hukum dalam AIW tercantum atas nama pribadi (otomatis dalam sertifikatnya tertulis atas nama

pribadi) merupakan kekeliruan yang perlu segera diperbaiki. Misalnya, orang mewakafkan sebidang tanah kepada salah satu organisasi otonom Muhammadiyah (misalnya Aisyiyah), karena dalam proses perwakafannya tidak dimungkinkan dibuat atas nama Aisyiyah (sebab menurut ketentuan perundang-undangan Aisyiyah bukan merupakan subjek hukum yang dapat memiliki tanah), lantas oleh pengurus Aisyiyah diambil kebijakan ditulis atas nama pribadi salah seorang pengurus. Hal seperti ini merupakan kekeliruan yang besar dan berpotensi besar untuk menimnulkan persoalan di belakang hari.

Untuk itu kepada siapa saja yang hendak berwakaf, dianjurkan agar pada saat pembuatan Akta Ikrar Wakaf menegaskan secara jelas siapa yang menjadi nazhirnya (apakah pribadi, organisasi atau badan hukum) kepada PPAIW (KUA). Sebaliknya, kepada para PPAIW (KUA) diingatkan agar pada saat pembuatan AIW mempertegas dan memberi penjelasan secara baik dan benar kepada pihak yang akan berwakaf, khususnya mengenai siapa yang akan menjadi nazhir atas harta yang diwakafnya.

Mudah-mudahan penjelasan ini dapat memberi pencerahan pemahaman masyarakat tentang perlunya Akta Ikrar Wakaf. Dengan ini diharapkan akan dapat meminimalisir persoalan-persoalan hukum kepemilikan harta wakaf di masa yang datang. Dan pada gilirannya harta wakaf dapat digunakan sesuai kehendak pewakaf serta menjadi sedekah jariah kepadanya, dan memberi manfaat yang besar terhadap pembangunan kesejahteraan umat. Amin Ya Allah.

( Suhrawardi K Lubis : Penulis adalah Ketua Umum HIMNI-SU, Bendahara PW Muhammadiyah SU dan Dosen Magister Kenotariatan UMSU )

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s